MAKNA SIMBOLIS TRADISI MAPPAOLI BANUA PADA MASYARAKAT BANUA KAIYANG MOSSO PROVINSI SULAWESI BARAT

Raodah Raodah

Abstract


Abstrak

Mappaoli banua  merupakan  tradisi ritual pada masyarakat  Banua Kaiyang Mosso di Kabupaten Polman, Provinsi Sulawesi Barat. Mappaoli banua  bertujuan untuk mengobati dan menyucikan kampung, agar terhindar dari bencana alam dan wabah penyakit. Sampai sekarang tradisi  ritual itu tetap bertahan dan  menjadi agenda tahunan masyarakat Banua Kaiyang Mosso. Penelitian ini difokuskan untuk mengetahui dan mendiskripsikan prosesi pelaksanaan tradisi ritual mappaoli banua dan makna simbolis yang terkandung dalam tradisi ritual tersebut. Tradisi ritual mappaoli banua, mencerminkan karakter dan jati diri masyarakat Banua Kaiyang Mosso sehingga perlu dikaji dalam upaya melestarikan  budaya lokal, sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui pengamatan, wawancara dan dokumentasi.  Dari hasil penelitian diketahui bahwa, pelaksanaan tradisi ritual mappaoli banua terdiri atas beberapa tahap, yaitu: tahap persiapan, mapparawung sossorang (penurunan  benda pusaka), mamminnai tedzong (pengolesan minyak pada kerbau), pangngereang tedzong (penyembelihan kerbau), massamaya (ziarah ke makam leluhur), dan mattanang uwae (memasang air untuk pengobatan). Setiap tahapan dalam ritual tersebut melambangkan simbol yang mengandung makna. Simbol mapparawung sossorang  bermakna penghormatan kepada benda pusaka peninggalan leluhur, simbol mamminnai tedzong bermakna pembersihan pada hewan persembahan, simbol pangngereang tedzong bermakna hewan persembahan yang tertinggi kepada leluhur, simbol massamaya dimaknai sebagai wujud cinta dan bakti kepada leluhur dan ajang silaturrahmi masyarakat Banua Kaiyang Mosso. Simbol mattanang uwae bermakna sebagai pengobatan, keselamatan dan keberkahan manusia dan alam  negeri Banua Kaiyang Mosso. 


Abstract

         Mappaoli Banua is a ritual tradition in the community of Banua Kaiyang Mosso in Polman regency, West Sulawesi. Mappaoli Banua aims to treat and purify the village, in order to avoid natural disasters and disease outbreaks. Until now this ritual traditions survive and become an annual event of Banua Kaiyang Mosso community. This research is focused to identify and describe the ritual procession implementation of Mappaoli Banua tradition and the symbolic meaning contained in the ritual tradition. Mappaoli Banua ritual tradition reflects the character and identity of the Kaiyang Mosso people that need to be examined in an effort to preserve local culture, as part of the cultural wealth of the nation. This study used a qualitative method with descriptive approach. The technique of collecting data were through observation, interviews and documentation. The results revealed that the implementation of the tradition of ritual Mappaoli Banua consists of several stages: preparation, mapparawung sossorang (decrease heirlooms), mamminnaitedzong, (anointing on buffalo), pangngereang tedzong (slaughtering buffalo), massamaya (pilgrimage to ancestral graves) and mattanang uwae (install water treatment). Each stage in the ritual symbolizes the meaning implies. Symbol of mapparawung sossorang is meaningful homage to the ancestral heirlooms, symbols of tedzongmamminnai means cleaning animal offerings, tedzong pangngereang is a symbol of the highest animal sacrifice to the ancestors, massamaya symbols as a manifestation of love and devotion to the ancestors and the public arena of Banua Kaiyang Mosso. Mattanang Uwae symbol for the treatment, safety and human and natural land blessing of Banua Kaiyang Mosso.


Keywords


ritual mappaoli banua, Banua Kaiyang Mosso, mappaoli banua rituals, Banua Kaiyang Mosso.

Full Text:

PDF

References


Jurnal, Makalah, Laporan Penelitian, Skripsi dan Tesis

Datuan, Maeke Yulita. 2011. Makna Simbolik Tau-tau dalam Sistem Stratifikasi Sosial pada Pelaksanaan Upacara Rambu Solo Kabupaten Tana Toraja. Skripsi. Makassar: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNHAS.

Endahwati, Sri, dkk. 2012. “Upacara Adat Jolenan di Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo: Kajian Makna Simbolik dan Nilai Religius” dalam. Basastra Vol. 1 No. 1 April 2012. Hlm 157-170.

Hamiruddin, Udu. 2012. “Tradisi Kangkilo: Salah Satu Modal Sosial Budaya bagi Pembentukan Karakter Positif Masyarakat Buton”, dalam Prosiding. Kendari: Universitas Haluoleo.

Ismail, Arifuddin. 2014. ”Unsur-Unsur Islam dalam Ritual Nelayan Mandar di Pambusuang Kabupaten Poliwali Mandar Provinsi Sulawesi Barat” dalam Walasuji Vol. 5 No. 2. Desember 2014. Hlm.277-287.

Jumiaty. 2013. Makna Simbolik Tradisi To Ma’badong dalam Upacara Rambu Solo di Kabupaten Tana Toraja. Skripsi. Makassar: Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin.

Pramono, Ari Agung, 2009. Makna Simbol Ritual Cembengan di Madukismo Kabupaten Bantul. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Sunan Kalijaga.

Saifullah, Andi. 2007. Tradisi Sompa, Studi tentang Pandangan Masyarakat Wajo di Tengah Perubahan Sosial. Skripsi SHI. Malang: Universitas Islam Negeri Malang.

Soehadha, Muhammad. 2006. “Teori Victor Turner, Aplikasi dan Implikasi Metodologisnya untuk Studi Agama-Agama” dalam Esensia Vol. 7 No. 2. Juni 2006. Hlm 207-212.

Yahya, Nurul Wardani.2013. Strata Sosial Masyarakat Balanipa: Studi atas Ketatanegaraan Islam. Skripsi. Makassar: Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin.

Buku

Ansaar, 2010. Nilai Budaya dalam Upacara Massossor Manurung di Kabupaten Mamuju. Makassar: Penerbit Dian Istana kerja sama dengan BPSNT Makassar.

Geertz, Clifford. 1992. Kebudayaan dan Agama. (Terjemahan). Yogyakarta: Kanisus.

Hafid, Abdul. 2010. Penerapan Hukum Adat dalam Prosesi Baca-baa Nneneqta Adam di Lambanan Kabupaten Polman. Makassar: Dian Istana kerja sama dengan BPSNT Makassar.

Koentjaraningrat. 1997. Pengantar Antropologi (Pokok-Pokok Etnografi II). Jakarta: PT Rineka Cipta.

Moeloeng, L.J. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sewang, Anwar.2001. Sosialisasi Siri pada Masyarakat Mandar. Penerbit Yayasan Maha Putra Mandar

Sumber Internet

http://ridwanmandar.blogspot.com/2015/01/pengorbanan-kerbau-ritus-kuno-yang.html diakses tanggal 30 Maret 2015

https://msdatuan.wordpress.com/artikel/kerbau-dalam-tradisi-masyarakat-toraja/diakses tanggal 27 Mei 2015.

Informan

Mustamin (54 tahun). 2015 Sando Banua. Wawancara. Balanipa, 12 Pebruari 2015.

Supri (45 tahun)2015 Kepala Desa Mosso. wawancara. Mosso, 10 Pebruari 2015




DOI: http://dx.doi.org/10.30959/patanjala.v7i3.106

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


Patanjala Indexed by :

patanjala google schoolar 

ISSN: 2085-9937 (print)
ISSN: 2598-1242 (online)

@2017

Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

 Image and video hosting by TinyPicCreative Commons License