SAWER PANGANTEN TUNTUNAN HIDUP BERUMAH TANGGA DI KABUPATEN BANDUNG

Aam Masduki

Abstract


Abstrak

Suku bangsa Sunda menghuni hampir seluruh daerah Jawa Barat, satu suku bangsa yang jumlahnya besar. Sebagai satu suku bangsa yang jumlahnya besar, suku bangsa Sunda mempunyai tata cara hidup, adat kebiasaan, dan budaya. Memang terdapat akulturasi dan integrasi dengan kebudayaan lain yang datang dari luar, tetapi masih terdapat hal-hal asli seperti yang kita dapatkan dalam berbagai upacara adat. Upacara adat pernikahan misalnya, upacara ini merupakan warisan adat budaya lama yang masih dilaksanakan di berbagai tempat di Jawa Barat. Sawer (nyawer) adalah salah satu adat kebiasaan pada orang Sunda, yang termasuk ke dalam tata cara upacara adat pernikahan. Kata-kata dalam sawer  umumnya mempergunakan bahasa yang sudah biasa dipakai dalam kehidupan sehari-hari, sehingga isi, tema dan amanat mudah dipahami. Sawer perlu diteliti, selain karena merupakan warisan budaya yang mempunyai nilai kerohanian,  juga karena puisi sawer merupakan bagian dari khasanah sastra Sunda, yang salah satunya dapat berfungsi sebagai alat pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis, yakni mendeskripsikan data dan menganalisis data yang dikumpulkan. Hasil pengumpulan data disusun, dianalisis, ditafsirkan, dan dideskripsikan.

 

Abstract

Sundanese ethnic groups inhabit almost the entire area of West Java, a large number of ethnic groups. As a large number of ethnic groups, Sunda has the way of life, customs, and culture. Indeed, there are acculturation and integration with other cultures that come from outside, but there are original things like we get from various ceremonies. Customary marriage ceremony, for example, this ceremony is a legacy of the old cultural customs that are still held in various places in West Java. Sawer (nyawer) is one of the customs of the Sundanese people, who belong to the procedures for wedding ceremonies. The words used insawer generally use theterms that are already commonly used in everyday life, so the contents, themes and messages are easy to understand. Sawer need to be investigated, as well as a cultural heritage that has spiritual value, as well as Sawerpoetryis a part of the repertoire of Sundaliterary, one of which can serve as an educational tool. This research uses descriptive method of analysis which describes the data and analyze the collected data. The results of data collectionare compiled, analyzed, interpreted and described.


Keywords


sawer panganten, tuntunan hidup, rumah tangga, : sawerpanganten, life guidance, house hold.

Full Text:

PDF

References


Buku

Azis, H. A. 2011. Pendidikan Karakter Berpusat pada Hati, Akhlak Mulia Fondasi Membangun Karakter Bangsa. Jakarta: Al-Mawardi.

Danandjaja, James. 2007. Folklor Indonesia. Jakarta : Graffiti Press.

Lembaga Basa & Sastra Sunda.1975. Kamus Umum Basa Sunda. Bandung:Tarate.

Rusyana, Yus. 1981. Sastra Lisan Nusantara. Bandung: CV. Dipenogoro.

Rusyana, Yus. 1978. Sastra Lisan Sunda. Jakarta : Pusat Pembinaan Pengembangan Bahasa Indonesia.

Rusyana.Yus. 1984. Metode Pengajaran Sastra. Bandung: Gunung Larang.

Semi, M. Atar. 1990. Metode Penelitian Sastra, Bandung: Angkasa.

Soekanto, S. 1998. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali.

Rusyana,Yus.1981. Sastra Lisan Nusantara. Bandung: CV.Dipenogoro.

-----------------.1978. Sastra Lisan Sunda. Jakarta : Pusat Pembinaan Pengembangan Bahasa Indonesia.

Rusyana, Yus dkk.1988/1989. Pandangan Hidup Orang Sunda (Seperti Tercermin dalam Kehidupan Masyarakat Dewasa Ini) Tahap III. Bandung: Depdikbud.

Sukatman. 2009. Butir-butir Tradisi Lisan Indonesia (Pengantar Teori dan Pembelajarannya).Yogyakarta : LaksBang PRESSindo Yogyakarta.

Supendi, Usman. 2006. Folklore Sunda. Makalah perkuliahan. Universitas Islam Nusantara Bandung.

Taufiq Hidayat, Rachmat dkk. 2007. Peperenian Urang Sunda. Bandung: Kiblat Buku Utama.

Warnaen,S.et.al.1987. Pandangan Hidup Orang Sunda Seperti Tercermin dalam Tradisi Lisan dan Sastra Sunda. Jakarta: Depdikbud.

Internet

http://pragmatikwacana.blogspot.co.id/2011/10/berguru-karakter-pada-sawer-panganten.html, diakse 14 Agustus 2015 pukul 11.00 WIB

http://www.kabarpriangan.com/news/detail/12570,diakses tanggal10 Agustus 2015 pukul 10.00 WIB.

Sumber Lisan/Informan

Cucun (53 tahun). 2015. Seniman Juru Sawer perempuan. Wawancara, Cicalengka 14 Juni 2015.

Ujang (48 tahun). 2015. Seniman Juru Sawer Laki-laki Wawancara, Cicalengka 14 Juni 2015.




DOI: http://dx.doi.org/10.30959/patanjala.v7i3.111

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


Patanjala Indexed by :

patanjala google schoolar 

ISSN: 2085-9937 (print)
ISSN: 2598-1242 (online)

@2017

Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

 Image and video hosting by TinyPicCreative Commons License