SISI LAIN KEHIDUPAN PREANGERPLANTERS: DARI PERBURUAN HINGGA GAGASAN KONSERVASI SATWA LIAR

Budi Gustaman

Abstract


Upaya pelestarian satwa liar telah muncul di Priangan sejak akhir abad ke-19. Munculnya gagasan konservasi satwa liar diawali dari kebiasaan berburu yang dilakukan para tuan kebun teh di Priangan (Preangerplanters). Studi ini mempertanyakan sebab kemunculan gagasan konservasi satwa liar akibat kebiasan berburu yang dilakukan preangerplanters. Penelitian dilakukan dengan metode sejarah dengan memanfaatkan sumber berupa arsip, buku, koran, majalah, dan internet. Temuan utama studi ini ialah kedekatan dengan alam memunculkan kebiasaan berburu sebagai proteksi diri, perlindungan tanaman perkebunan, dan rekreasi. Preangerplanters membentuk perkumpulan berburu bernama venatoria untuk mengontrol perburuan yang tidak terkendali serta berupaya melestarikan hutan Cikepuh sebagai kawasan konservasi. Kesimpulannya ialah gagasan konservasi satwa liar muncul dari ketakutan preangerplanters terhadap kelangkaan satwa buruannya. Wilayah Priangan menjadi salah satu pionir perlindungan satwa liar. Hal yang selama ini terlupakan karena upaya konservasi sangat identik dengan Buitenzorg (Bogor) sebagai poros konservasi alam di Indonesia.


Wildlife conservation had emerged in Priangan since the end 19th century. The emergence of wildlife conservation idea begins with hunting habits carried out by tea plantation owners in Priangan (Preangerplanters). This study questions the cause of the emergence of the wildlife conservation idea due to hunting habits. It employs historical method by utilizing sources, such as archieves, books, newspaper, magazine, and internet. Main finding of this study is the proximity to nature led to the habit of hunting as a protection (self-safety and plantation crops), and as a pleasure. Preangerplanters formed hunting’s club called venatoria to control the uncontrolled game and preserve Cikepuh forest. The concludes is  wildlife conservation idea arises from the fear of them in the scarcity of game. Priangan is one of the forgotten pioneers because wildlife conservation refers to Buitenzorg (Bogor) which became center of nature conservation in Indonesia.



Keywords


Preangerplanters, konservasi, satwa liar, Priangan.

Full Text:

PDF

References


DAFTAR SUMBER

Arsip

Jaarverslag van Nederlandsch Indische Vereeniging tot Natuurbescherming 1912-1913.

Jaarverslag van Nederlandsch Indische Vereeniging tot Natuurbescherming 1917-1919.

Staatsblad van Nederlandsch-Indie 1910 No. 594.

Staatsblad van Nederlandsch Indie 1916 No. 276.

VerslagNederlandsch Indische Vereeniging tot Natuurbescherming1933-1934.

Buku

Bernard, Ch. 1978.

“Sejarah Budidaya Teh di Indonesia” dalam Sejarah Perusahaan-Perusahaan Teh di Indonesia 1824-1924. Bandung: Balai Penelitian Teh dan Kina.

______________. 1999.

Oriental Nature its Friends and its Enemies: Conservation of Nature in Late Colonial Indonesia 1889-1949. Leiden: KITLV.

______________.2001.

Frontiers of Fear Tigers and People in The Malay World 1600-1950. New Heaven & London: Yale University Press.

Brasser, J. C. 1925.

Jacht op Groot Wild in Nederlandsch Oost-Indie. Bandoeng:Zutphen-W. J. Thieme & Cie.

Breman, Jan. 2014.

Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa; Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Cribb, Robert. 1997.

“Bird of Paradise and Environmental Politics in Colonial Indonesia, 1890-1911”, Peter Boomgaard, Paper Landscape: Exploitations in The Environmental History of Indonesia. Leiden: KITLV Press.

Furnivall, J.S. 2009.

Hindia Belanda; Studi tentang Ekonomi Majemuk. Jakarta: Freedom Institute.

De Graaf. 1990.

Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Sultan Agung. Jakarta: Grafiti Pers.

Haasse, Hella. 2015.

Sang Juragan Teh. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Jepson, Paul & Robert Whittaker. 2002. Histories of Protected Areas: Internationalisation of Conservationist Values and their Adoption in the Netherlands Indies (Indonesia). Cambridge: The White Horse Press.

Kartodirdjo, Sartono & Djoko Suryo. 1991. Sejarah Perkebunan di Indonesia; Kajian Sosial Ekonomi.Yogyakarta: Aditya Media.

Kunto, Haryoto. 1985.

Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Bandung: Granesia.

____________. 1986.

Semerbak Bunga di Bandung Raya. Bandung: Granesia.

Lubis, Nina H. 1998.

Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942. Bandung: Pusat Informasi Kebudayaan Sunda.

Riana, I Ketut. 2009.

Kakawin Desa Wannana Uthawi Nagara Krtagama; Masa Keemasan Majapahit. Jakarta: Kompas.

Stichting Indisch Thee- en Familiearchief Van der Hucht c.s. (t.t).

De Thee van Negla; Herinneringen van Marga C. Kerkhoven. (Renkum: Enschede).

Suganda, Her.2014.

Kisah Para Preanger Planters. Jakarta: Kompas.

Surat Kabar dan Majalah

Bataviaasch Nieuwsblad.

“Doodelijk Jachtongeluk”. 19 Oktober 1939.

Carli, P.G. “De Reflektor” Geillustreerd Weekblad voor Ned-Indie. 15 Juli 1916, hlm.,850.

De Indische Courant. “Doodelijk Jachtongeluk in Djampang Koelon", 21 Oktober 1939.

De Preanger Bode. “Jachterreinen en vermindering van diersoorten”, 8 Desember 1914.

Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie. “Wilde varkens”, 26September 1902.

Kerkhoven, A.R.W. De Preanger Bode, “Jagers en Wild”, 29 Desember 1914.

Website

Collectie Tropenmuseum, “A.R.W. Kerkhoven met een door hem tijdens een jachtpartij geschoten banteng stierTjikepoeh”, http://commons.wikimedia.org/, diakses 8 April 2015.




DOI: http://dx.doi.org/10.30959/patanjala.v11i2.505

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


Patanjala Indexed by :

patanjala google schoolar 

ISSN: 2085-9937 (print)
ISSN: 2598-1242 (online)

@2017

Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

 Image and video hosting by TinyPicCreative Commons License