FUNGSI NGAROT UNTUK MASYARAKAT LELEA

Ria Intani Tresnasih dan Lasmiyati

Abstract


Abstrak
Ngarot merupakan upacara yang memiliki keterkaitan dengan masalah pertanian.Upacara ini terdapat di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu.Upacara ngarot diikuti oleh generasi muda dan berlangsung dari tahun ke tahun tanpa putus. Keikutsertaan generasi muda serta keberlangsungan upacara ini memunculkan pertanyaan apa yang menjadi tujuan upacara, seperti apa bentuk dari upacara ngarot, dan apa sesungguhnya fungsi dari upacara ngarot itu untuk generasi muda khususnya dan masyarakat Lelea pada umumnya. Sehubungan dengan pertanyaan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tujuan upacara, bentuk dari upacara ngarot, dan fungsi upacara itu bagi generasi muda khususnya dan masyarakat Lelea pada umumnya. Jenis penelitian ini deskriptif dengan pendekatan yang digunakan adalah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upacara ngarot menjadi wadah untuk mempersatukan pemuda Lelea, menjadi wadah untuk melekatkan rasa gotong royong antarpemuda Lelea, dan mengajarkan pemuda untuk hidup mandiri dengan mendayagunakan potensi desanya. Simpulan yang dapat ditarik dari penelitian adalah bahwa upacara ini tidak lain sebagai sarana sosialisasi kepada generasi muda Lelea, agar mereka senantiasa dapat mencintai desanya.

 

Abstract
Ngarot is a ritual that has been linked to farming problems. This ritual occurs in Lelea village, District of Lelea, Indramayu. Ngarot ceremony followed by the younger generation and continuosly lasts from a year to a year. The participation of the younger generation as well as the sustainability of this ceremony raises the question on what the purpose of the ceremony is, what Ngarot is, and what the real function of the Ngarot ceremony is for the younger generation in particular and Lelea society in general. In connection with these questions, this study aims to determine the purpose of the ceremony, the form and ritual of ngarot ceremony is for the younger generation, in particular and Lelea society, in general. It is descriptive study with the qualitative approach. The results showed that Ngarot ceremony of Lelea is a means to unite the Lelea youth, become a means to attach a sense of mutual cooperation among the Lelea youth, and teaches youth to be independent by empowering the potential of the village. The conclusion that can be drawn from the research is this ceremony was seen as a means of socialization to the younger generation of Lelea, so they can always love the village.


Keywords


fungsi, upacara Ngarot, masyarakat Lelea, Function, Ngarot, Lelea Society.

Full Text:

PDF

References


Jurnal/ Laporan Penelitian

Al-Hasani, Mohamad Muwafiqilah, Oksiana Jatiningsih. “Makna Simbolik dalam Ritual Kawit dan Wiwit Pada Masyarakat Pertanian di Desa Ngasemlemahbang Kec. Ajibarang Kab. Sleman” dalam Kajian Moral dan Kewarganegaraan Vol. 03Nomor 02 tahun 2014. Hlm. 1220 – 1236.

Herlinawati, Lina. “Ngaruat Solokan di Desa Cihideung Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat” dalam Jurnal Patanjala Vol. 3 No. 2 Juni 2011. Hlm. 296-314.

Hidayat, Lina Marliana. ”Pertunjukan Ronggeng Ketuk dan Topeng pada Upacara Ngarot di Desa Lelea Kabupaten Indramayu (Sebuah Kajian Interaktif Simbolik)” dalam Panggung Vol. 24 No.1. Maret 2014. Hlm. 59-70.

Intani T., Ria. “Pengobatan Tradisional di Kalangan Anak-anak (Studi Kasus di Kecamatan Soreang)” dalam Jurnal Patanjala Vol. 7 No. 3. September 2015. Hlm. 509-524.

_____. “Fungsi Upacara Pertanian pada Masyarakat Guradog Kabupaten Lebak” dalam Jurnal Patanjala Vol. 1 No. 1 Maret 2009. Hlm. 84-95.

Kasnodihardjo.“Lebih Jauh Mengenal Metode Pengamatan” dalam Media Litbangkes Vol. II/No. 3/1992.

Merlina, Nina. “Upacara Huluwotan: Ritual Pada Masyarakat Gambung Desa Mekarsari Kabupaten Bandung” dalam Jurnal Patanjala Vol. 7 No. 2 Juni 2015. Hlm. 249-262.

Nisfiyanti, Yanti. “Kajian Nilai Budaya dalam Upacara Mapag Sri di Desa Lelea” dalam Jurnal Patanjala Vol. 3 No.3 September 2011. Hlm. 442-455.

Rahmawati, Neni Puji Nur. “Nilai Pendidikan dalam Budaya Menanam Padi Suku Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat” dalam Jurnal Patanjala Vol. 4 No. 1.Maret 2012. Hlm. 14-24.

Rusnandar, Nandang. “Seba, Puncak Ritual Masyarakat Baduy di Kabupaten Lebak Provinsi Banten” dalam Jurnal Patanjala Vol. 5 No. 1.Maret 2013. Hlm. 82-98.

Somantri, Ria Andayani. “Sistem Gotong Royong pada Masayarakat Baduy di Desa Kanekes Provinsi Banten” dalam Jurnal Patanjala Vol. 4 No. 1.Maret 2012. Hlm. 137-151.

Tresnasih, Ria Intani., Suwardi A.P., Enden Irma R., Yeti Tresnawati., Dian

Dianawati., Ecos.1992. Upacara Ngarot di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu. Laporan Perekaman. Depdikbud, Dirjen Kebudayaan, Direktorat Jarahnitra: P3NB Jawa Barat.

Tresnasih, Ria Intani & Lasmiyati. 2015. Upacara Ngarot. Pencatatan Warisan Budaya Takbenda (WBTB). Disbudpar Provinsi Jawa Barat.

Buku

Anonim. Tata Upacara Adat Tradisional Tani di Desa.

Bungin, Burhan H. M. 2009 Penelitian Kualitatif. Jakarta: Prenada Media Group.

Dasuki, HA. 1977. Sejarah Indramayu.

Ekadjati, Edi S, 1995. Kebudayaan Sunda, Suatu Pendekatan Sejarah (1). Jakarta: Pustaka Jaya.

Kasim, Supali. 2011. Menapak Jejak Sejarah Indramayu. Yogyakarta: Framepublishing.

Koentjaraningrat. 1990. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Saebani, Beni Ahmad. 2012. Pengantar Antropologi. Bandung: Pustaka Setia.

Salana, 1987 Anjir Sejarah Carbon, jilid I, 1987.

Samian. 1992. Sambutan Kepala Desa Lelea pada Upacara Adat Ngarot Tanggal 25 Nopember 1992. Indramayu.

Sumardjo, Unang, 1983 Meninjau Sepintas Panggung Sejarah Pemerintahan Kerajaan Cirebon 1479-1809.Bandung: Tarsito.

Internet

“Tari Topeng Indramayu” dalam http://sanggarcendrawasih.wordpress.com diakses tanggal 23 Maret 2013, jam. 12.05.

Bapeda Kabupaten Indramayu dalam “Gambaran Umum Kondisi Daerah”, diakses dari www.bappedaindramayu kab.go.id, tanggal 2 Februari 2016, jam 11.45.

Hartati, Sri Trisna Dewi , “Peranan Dewi Sri dalam Tradisi Pertanian di Indonesia”, diakses dari http://iaaipusat.worpress.com, tanggal 2 Februari 2014 jam 14.35.

“Adat Tradisi Ngarot”, foto diakses dari http://nanakartawi.blogspot.co.id, tanggal 8 Februari, jam. 20.10.

“Tradisi Ngarot di Indramayu”, foto diakses dari http://news.fajarnews.com, tanggal 8 Februari 2016, jam20.56.

“Persiapan Upacara Ngarot Indramayu”, foto diakses dari http://www.bandungnews photo.com. Tanggal 8 Februari 2016, jam 21.37.

“Upacara Adat Ngarot”, foto diakses dari http://www.kabar-cirebon.com, tanggal 8 Februari 2016, jam 21.52.

“Mengenakan Kostum Tari Topeng di Upacara Ngarot”, foto diakses dari http://www.lpsn.infocontentcarpan, tanggal 7 Februari 19.08.

Sambut Musim Tanam Desa Lelea Gelar Tradisi Ngarot”, foto diakses dari http://www.pikiran-rakyat.comjawabarat, tanggal 7 Februari 2016, jam. 19.35.

“Makna yang Terkandung dalam Acara Adat”, foto diakses dari http://www.tosupedia. com, tanggal 7 Februari 2016, jam 20.42.

“Kisah Balada Primadona Ronggeng Terakhir”, diakses dari http:/pensilwarnadesign. wordpress.com, 26 Pebruari 2016, jam 19.20.

“Ajang Pesta Gadis dan Perjaka, Warga Lelea Gelar Tradisi Ngarot” diakses dari http://www.cirebontrust.com, pada 8 Juni 2016 Jam. 13.35.




DOI: http://dx.doi.org/10.30959/patanjala.v8i1.52

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


Patanjala Indexed by :

patanjala google schoolar 

ISSN: 2085-9937 (print)
ISSN: 2598-1242 (online)

@2017

Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

 Image and video hosting by TinyPicCreative Commons License