SEJARAH PEMBUATAN DAN MAKNA SIMBOLIK PAKAIAN ADAT MUNA

La Ode Dinda, Aman Aman, johan setiawan

Abstract


Tujuan penelitian ini adalah: menjelaskan asal-usul pakaian Adat Muna, menggambarkan proses pembuatan pakaian Adat Muna, menjelaskan fungsi pakaian Adat Muna, menjelaskan makna simbolik pakaian Adat Muna. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan sejarah. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Sumber yang digunakan merupakan data lapangan melalui participant observation sebagai data primer, dan sumber kepustakaan sebagai data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Asal-usul pakaian Adat Muna sudah lama dikenal oleh masyarakat Muna dan kerajinan ini merupakan salah satu kreativitas mereka yang digunakan dalam acara-acara tertentu, (2) Proses pembuatan pakaian Adat Muna terdiri dari proses menghani/kasoro dan Proses menenun, (3) Pakaian Adat Muna memiliki fungsi etik, estetik, religius, sosial, dan (4) Makna simbolik pakaian Adat Muna yaitu: (a) Mahkota yang berwarna putih dan merah mengandung arti sebagai simbol kesucian dan keberanian (b) Warna sarung yang berwarna biru mengandung arti kepatuhan.



The objectives of this study are: to describe the origin of Muna traditional clothes, to describe the process of making Muna traditional clothes, to explain the functions of Muna traditional clothes, to explain the symbolic meaning of Muna traditional clothes in people's lives. The method used in this researchis descriptive qualitative method with a historical approach. Data collection techniques are carried out through field observation and interviews as primary source and document study as secondary source. The results of the study show that: (1) The origins of Muna traditional clothes have long been known by the Muna community and that this craft is one of their creative manifestations used in certain events, (2) The process of making Muna traditional clothes consists of the process of  menghani/kasoro and the process of weaving, (3) The functions of Muna traditional clothes have ethical, aesthetic, religious, social dimension, and (4) Symbolic meaning of Muna Traditional namely: (a) White and red crowns  mean as a symbol of chastity and wealth, (b) Blue sarong means obedience.


Keywords


sejarah, makna simbolik, pakaian adat muna

Full Text:

PDF

References


Jurnal dan Skripsi

Ardin, Agus, C, dan Hartono. “Makna Simbolik Pertunjukan Linda dalam Upacara Ritual Karia di Kabupaten Muna Barat Sulawesi Tenggara” dalam Jurnal Catharsis: Juornal of Arts Education, Vol. 6 No.1 Juni 2017. Hlm 57-64.

Cahyono, A. “Seni Pertunjukan Arak-arakan dalam Upacara Tradisional Dugdheran di Kota Semarang” dalam Jurnal Harmonia: Journal of Arts Reseach and Education, Vol. 7 No.3 Juni 2016. Hlm 241-242.

Erwin. “Makna Simbolik Benda Adat Pinangan dalam Pernikahan Suku Muna” dalam Jurnal UHO, Vol. 1 No. 1 Juni 2016. Hlm 1-13.

Hadirman. “Tradisi Katoba sebagai Media Komunikasi Tradisional dalam Masyarakat Muna” dalam Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik, Vol. 20 No.1 Agustus 2016. Hlm 11-30.

______“Sejarah dan Bahasa Figuratif dalam Tradisi Katoba pada Masyarakat Muna” dalam Jurnal Aqlam: Journal of Islam and Plurality. Vol. 2 No. 1. Juni 2017. Hlm 44-55.

Kistanto, N.H. “Tentang Konsep Kebudayaan” dalam Jurnal Kajian Kebudayaan, Vol. 10 No. 2 Februari 2015. Hlm 1-11.

Lisnawati. “Makna Tuturan Ritual Kabhasi pada Masyarakat Muna” dalam Jurnal Bastra, Vol. 3 No. 3 Desember 2016. Hlm 1-13.

Maulid. 2012.

Tradisi Lisan Kagaa dalam Masyarakat Muna di Sulawesi Tenggara, Perubahan dan Keberlajutannya. Skripsi. Bandung: FIB UPI.

Masgaba. “Tradisi Kasambu dan Fungsinya Pada Masyarakat Muna Sulawesi Tenggara” dalam Jurnal Al-Qalam, Vol. 21 No. 1 Juni 2015. Hlm. 33-44.

Melamba, B. “Sejarah dan Ragam Hias Pakaian Adat tolaki di Sulawesi Tenggara” dalam Jurnal Mozaik: Jurnal Ilmu Humaniora, Vol. 12 No. 2 Desember 2012. Hlm 193-209.

Miharja, D. “Wujud Kebudayaan Masyarakat Adat Cikondan dalam Melestarikan Lingkungan dalam Jurnal Agama dan Lintas Budaya, Vol.1 No. 1 Setember 2016. Hlm 52-61.

Suraya. “Tradisi Haroa Pada Etnik Muna: Fenomena Budaya dalam Kehidupan Beragama di Era Global” dalam Jurnal Kajian Budaya, Vol. 10 No. 20 Juli 2014.

Tarifu, L dan Halika, L.O.H. “Pergeseran Nilai Ritual Kaghombo dalam Tradisi Masyarakat Muna” dalam Warta ISKI, Vol. 1 No. 1 Februari 2018. Hlm. 9-21.

Buku

Asse dkk.1995.

Pakaian Pengantin Daerah Sulawesi Tenggara. Kendari: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Sulawesi Tenggara.

Chalik, H. A. dkk.1992/1993.

Arti Lambang dan Fungsi Tata Rias Pengantin dalam Menanamkan Nilai-Nilai Budaya Provinsi Sultra. Kendari: Bagian Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Sulawesi Tenggara.

Ferdinansyah. dkk. 2007.

Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta: CV. Utan Kayu Sejati.

Giddens, A. 1991.

Sociology. Cambridge: Polity Press.

Liliweri, A.2014.

Pengantar Studi Kebudayaan. Bandung: Ujung Berung.

Melamba, B.2011.

Sejarah Tolaki di Konawe. Jogjakarta: Teras.

Moeliono, A. M. 2002.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdiknas.

Moleong, L. J. 2007.

Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muharto. 2012.

Muna Barakati. Jogyakarta: Indie Book Corner.

Nsaha, L. O. 1979.

Aneka Budaya Daerah Sulawesi Tenggara. Sulawesi Tenggara: Proyek Penggalian Nilai-Nilai Budaya Sulawesi Tenggara.

Nurdholt, H. S.2005.

Outward Appearances: Trend, Identitas Kepentingan (Penerjemah M. Imam Aziz). Yogyakarta: LKiS.

Rafiek.2014.

Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.

Sastrosupono, M. 1982.

Menghampiri Kebudayaan. Bandung: Penerbit Alumni.

Setyono, P. 2011.

Etika, Moral dan Bunuh Diri Lingkungan dalam Perspektif Ekologi (Solusi Berbasis Enviromental Insight Quotient), Surakarta: UNS Press dan LPP UNS.

Soekanto, S.1990.

Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Pharadya Paramitha.

_____,1993.

Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Pharadya Paramitha.

Supriyanto, dkk. 2009.

Sejarah Kebudayaan Islam Sulawesi Tenggara. Kerjasama Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Sulawesi Tenggara dengan Universitas Muhammadiyah Kendari.

Sutrisno, M.2005.

Teori - Teori Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Wahab, A.2014.

Adab Perpakaian dan Berhias. JakartaTimur: Pustaka Al-Kautsar.

Sumber Lisan/Informan

Arontiarasi La Ode Ali Hanafi (71 tahun). 2018. Tokoh Adat Muna. Wawancara, Muna, 17 September 2018.

La Kiama (52 tahun). 2018.

Tokoh Adat Muna. Wawancara, Muna, 1 September 2018.

La Munse (79 Tahun). 2018.

Tokoh Adat Muna. Wawancara, Muna, 20 September 2018.

La Ode Awori (61 tahun).2018.

Tokoh Adat Muna. Wawancara, Muna, 5 September 2018.

La Ode Barata (67 Tahun). 2018.

Tokoh Adat Muna. Wawancara, Muna, 13 September 2018.

La Tangkai Sara (68 tahun).2018.

Tokoh Adat Muna. Wawancara, Muna, 19 September 2018.

Wa Aga (75 tahun). 2018.

Pegiat Pakaian Adat Muna. Wawancara, Muna, 3,4,18 September 2018.

Wa Ode Teelo (65 tahun).2018.

Pegiat Pakaian Adat Muna. Wawancara, Muna, 8 dan 17 September 2018.

Wa Ure (69 tahun).2018.

Pegiat Pakaian Adat Muna. Wawancara, Muna, 6 dan 15 September 2018.




DOI: http://dx.doi.org/10.30959/patanjala.v11i3.536

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


Patanjala Indexed by :

patanjala google schoolar 

ISSN: 2085-9937 (print)
ISSN: 2598-1242 (online)

@2017

Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

 Image and video hosting by TinyPicCreative Commons License