KEARIFAN EKOLOGI DALAM TRADISI BUBUR SURO DI RANCAKALONG KABUPATEN SUMEDANG

Nunung Julaeha, Didin Saripudin, Nana Supriatna, Leli Yulifar

Abstract


Tradisi Bubur Suro di Rancakalong Kabupaten Sumedang merupakan kearifan lokal sebagai wujud syukur masyarakat kepada Sang Pencipta serta memiliki fungsi dalam menjaga dan memelihara kesinambungan alam (suistainability). Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai kearifan ekologi yang terdapat dalam tradisi Bubur Suro. Masalah penelitian dirumuskan dalam dua pertanyaan penelitian yaitu: (1) Bagaimanakah proses pelaksanaan tradisi Bubur Suro? (2) Nilai-nilai kearifan ekologi apa yang terdapat dalam tradisi Bubur Suro? Metode penelitian adalah deskriftif kualitatif dengan model etnografi. Hasil yang diperoleh menunjukkan terdapat nilai-nilai kearifan lokal dalam tradisi Bubur Suro yang berhubungan dengan upaya masyarakat dalam menjaga kesinambungan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, serta manusia dengan sang pencipta. Upaya menjaga kesinambungan alam tampak dalam memelihara keanekaragaman hayati (sarebu rupa), kesinambungan (babasan sarereaeun), hidup hemat dan sederhana (konsep patih goah), hidup tertib dan teratur (tataliparanti, dawegan dipares), gotong-royong serta simbol kersa nyai  sebagai bentuk perlindungan terhadap tanaman lokal.

 


The Bubur Suro tradition in Rancakalong Sumedang is one of the local wisdoms which has a function as an expression of the gratitude of the people to the Creator for mantaining the suistainabality of the cosmos. This research's aims is to identify the values of ecological wisdom contained in Bubur Suro tradition. The problem is formulated into two research questions, namely: (1) How is the Bubur Suro tradition being perfomed? (2) What ecological wisdom values are found in it? The method used is descriptive qualitative method with ethnografic model. The results show that there are local wisdom values in the Bubur Suro tradition which was related to humans efforts to maintain the sustainability of harmonious relationship among fellow human beings, nature, and the Creator. Efforts to preserve the sustainability of nature are evident in maintaining biodiversity (sarebu form), sustainability (babasan sarereaeun), frugal and simple living (patih goah), well-ordered living (tataliparanti, dawegan dipares), mutual cooperation and the symbol of kersa nyai as a form of  protection of local plants.


Keywords


sejarah, nilai budaya

Full Text:

PDF

References


Jurnal

Anwar, Rully Khairul., Edwin Rizal, Evi Novianti, Dadang Sugiana. “Adaptasi Media Interaksi Sosial Tradisional Terhadap Modernisasi: Filsafat Komunikasi di Rancakalong” dalam Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 1 (1) 2016. Hlm. 83-104.

Indrawardana, Ira. “Kearifan Lokal adat Masyarakat Sunda dalam Hubungan dengan Lingkungan Alam” dalam Jurnal Komunitas Vol. 4 (1) 2012. Hlm. 1-8.

Maryani, Enok dan Ahmad Yani. “Kearifan Lokal Masyarakat Sunda Dalam Memitigasi Bencana dan Aplikasinya Sebagai Sumber Pembelajaran IPS Berbasis Nilai” dalam Jurnal Penelitian Pendidikan UPI Vol. 14 (2) 2014. Hlm. 114-125.

Iskandar, Johan. “Etnobiologi dan Keragaman Budaya di Indonesia” dalam Umbara Indonesian Journal of Anthropology Vol. 1 (1) Juli 2016. Hlm. 27-42.

Unayah, Nunung dan Muslim Sabarisman. “Identifikasi Kearifan Lokal dalam Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil” dalam jurnal SosioInforma Kemensos Vol .2, No 1, Januari-April 2016. Hlm 4-10.

Buku

Danandjaja, James. 1984.

Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Ekadjati, Edi S. 1984.

Masyrakat Sunda dan Kebudayaannya. Bandung: Girimukti Pasaka.

Geertz, Clifford. 1992.

Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Kanisius.

Kaplan, David dan Robert A. Manners. 2012.

Teori Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Keraf. 2010.

Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: Buku Kompas.

Mulyana, Agus. 2009.

Mengembangkan Social Skills Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah. Bandung: UPI.

Nasiwan dan Cholisin. 2012.

Dasar-Dasar Ilmu Politik. Yogyakarta: Ombak.

Rosidi, Ajip. 2009.

Manusia Sunda. Bandung: Kiblat Buku Utama.

Sedyawati, Edi. 2012.

Budaya Indonesia Kajian Arkeologi, Seni dan Sejarah. Jakarta: Raja

Grafindo Perkasa.

Setiyadi, Putut. 2012.

Pemahaman Kembali Local Wisdom Etnik Jawa dalam Tembang Macapat dan Pemanfaatanna sebagai Media Pendidikan Budi Pekerti Bangsa. Malang: Universitas Widya Dharma.

Sibarani, Robert. 2012.

Kearifan Lokal, Hakikat, Peran dan Metode Tradisi Lisan. Jakarta: ATL.

Spradley, James. 2007.

Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Soekanto, Soerjono. 1990.

Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

Soemarwoto, Otto. 2009

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University.

Supriatna, Nana. 2016.

Ecopedagogy Membangun Kecerdasan Ekologis dalam Pembelajaran IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. 2016.

Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.

Sumardjo, Jakob. 1992.

Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia. Bandung: Citra Aditya Bakti.

________. 2003.

Simbol-simbol Artefak Budaya Sunda, Tafsir-tafsir Pantun Sunda. Bandung: Kelir.

________. 2011.

Sunda Pola Rasionalitas Budaya. Bandung: Kelir.

Suryaatmana, E, Darsa, Undang Ahmad and Erlyane, Ane and Wartini, Tien, 1993.

Paririmbon Sunda: Jawa Barat. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional.

Weber, Max. 1986.

On Charisma and Institution Building. Chicago: University of Chicago.




DOI: http://dx.doi.org/10.30959/patanjala.v11i3.538

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


Patanjala Indexed by :

patanjala google schoolar 

ISSN: 2085-9937 (print)
ISSN: 2598-1242 (online)

@2017

Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

 Image and video hosting by TinyPicCreative Commons License