“MENGENANG” UPACARA NGALOKAT WALUNGAN CIMANUK DI WILAYAH GENANGAN WADUK JATIGEDE KABUPATEN SUMEDANG

Irvan Setiawan

Abstract


Abstrak

Waduk Jatigede merupakan sebuah megaproyek pemerintah yang telah dicanangkan jauh sebelum tahun 1960-an dan baru mengalami taraf penyelesaian berupa penggenangan waduk pada akhir tahun 2015. Di wilayah penggenangan, banyak aset budaya yang menjadi bagian cukup penting bagi sejarah asal usul Kabupaten Sumedang yaitu Kerajaan Sumedanglarang. Selain itu, lokasi aset budaya tersebut kerap digunakan untuk melaksanakan kegiatan ritual yang salah satunya adalah Upacara ngalokat Walungan Cimanuk. Sebuah upacara permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk memberkati leluhur Sumedang sekaligus memohon dijauhkan dari bencana amukan Sungai Cimanuk. Upacara tersebut saat ini dapat dikatakan tidak dapat dilaksanakan lagi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendokumentasikan dan mendeskripsikan sebuah kearifan lokal yang diambang kepunahan. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, hasil dari penelitian dapat memperkuat asumsi bahwa dinamika budaya berjalan seiring dengan perkembangan kebutuhan manusia dengan mengesampingkan unsur kearifan lokal yang sebenarnya berfungsi untuk memperkuat jatidiri manusia sebagai satu-satunya mahluk yang seharusnya menjaga keseimbangan alam.

 

Abstrak

Jatigede reservoir is a government mega-projects that have been implemented long before the 1960s and experienced a new level of reservoir inundation completion by the end of 2015. In the area of inundation, many cultural assets that become part quite important for the history of the origin of the Sumedang that is Sumedanglarang Kingdom. In addition, the location of the cultural assets often used to perform rituals, one of which is the ngalokat Walungan Cimanuk ceremony. A ceremony requests to God Almighty to bless ancestor once pleaded Sumedang kept away from the Cimanuk River raging disaster. The ceremony are no longer be implemented anymore. This research was conducted in order to documenting and describing a local wisdom on the verge of extinction. By using qualitative research methods, the results may reinforce the assumption that the dynamics of culture go hand in hand with the development of human needs to the exclusion of local wisdom actual elements serve to reinforce human identity as the only creatures who are supposed to keep the balance of nature.


Keywords


Upacara tradisional, Waduk Jatigede, ngalokat walungan, Sungai Cimanuk, Traditional ceremony, Jatigede reservoir, ngalokat walungan, Cimanuk River.

Full Text:

PDF

References


Jurnal

Djaelani, Aunu Rofiq, 2013 “Teknik Pengumpulan Data Dalam Penelitian Kualitatif”, Majalah Ilmiah Pawiyatan Vol. XX, No. 1, Maret 2013.

Somantri, Gumilar Rusliwa. 2005. “Memahami Metode Kualitatif”, Jurnal Makara, Sosial Humaniora, Vol. 9, No. 2, Desember 2005

Supriatin, Yeni Mulyani, 2010. “Pembangunan Waduk Jatigede dan Mitos-mitosnya dalam Sastra Lisan Sunda”, Jurnal Sosioteknologi Edisi 20 Tahun 9, Agustus 2010.

Buku

Hilmanto, Rudi. 2010. Etnoekologi. Bandar Lampung: Univer-sitas Lampung.

Lembaga Basa dan Sastra Sunda, 1975. Kamus Umum Basa Sunda, Bandung: Tarate Bandung.

Rostiyati, Ani. 1995. Fungsi Upacara Tradisional bagi Masyarakat Pendukungnya Masa Kini. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sambodo, Priyo; Asmelita; Kasno. 2013. Waduk Jatigede Perjalanan Panjang Perjuangan Menapak Asa. Jakarta: The Indonesian Famous Publishing, Jakarta.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2008. Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa.

Makalah dan Laporan Penelitian

Hardjasaputra, A. Sobana dkk. 2004. Situs di Jatigede Tinjauan Sejarah dan Budaya. Laporan Penelitian. Bandung: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat.

Iskandar, J. 2011. “Perspektif Etnobiologi dalam Keanekaan Hayati dan Layanan Ekosistem”. Makalah Seminar Nasional Keanekaan Hayati dan Layanan Ekosistem. Jurusan Biologi Unpad. Bandung.

Kartawinata, Ade Makmur. 2002. “Amalan Agama Lokal dalam Komunitas Terpinggir Di Jawa Barat: Kajian Antropologi Agama”. Makalah Simposium Kebudayaan Indonesia – Malaysia VIII, 8 – 9 Oktober 2002.

Komunitas Kabuyutan Sunda. tt. “Usulan Perubahan Fungsi Bendungan Jatigede”, Makalah, Komunitas Kabuyutan Sunda.

Koran

“Presiden Yudhoyono Ikut Antre Saat Mencoba Operasional Pelayanan Kesehatan”, dalam Pikiran Rakyat 4 Februari 2014, hal. 14.




DOI: http://dx.doi.org/10.30959/patanjala.v8i1.63

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


Patanjala Indexed by :

patanjala google schoolar 

ISSN: 2085-9937 (print)
ISSN: 2598-1242 (online)

@2017

Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

 Image and video hosting by TinyPicCreative Commons License