SEBA: PUNCAK RITUAL MASYARAKAT BADUY DI KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN

Nandang Rusnandar

Abstract


Abstrak

Penelitian tentang upacara seba yang merupakan puncak kegiatan ritual keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat (Baduy) Kanekes di Kabupaten Lebak, bertujuan untuk mengetahui makna dan simbol yang ada dalam upacara tersebut. Metode penelitian yang digunakan bersifat deskripsi dengan pendekatan fungsional melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara dan pengamatan. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa upacara seba merupakan puncak acara ritual yang dilakukan setahun sekali yang dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan dan pemerintah atas kesejahteraan masyarakat Baduy yang telah dihasilkan dalam kurun satu tahun. Di samping itu upacara ini menjadi bukti adanya pengakuan secara adat dan bertujuan untuk bersilaturahmi antara masyarakat Kanekes dengan pemerintah baik di kabupaten maupun di provinsi yaitu kepada pejabat bupati dan gubernur yang secara informal mereka menjadi pemimpin masyarakat Baduy. Pelaksanaan upacara dipilih waktu yang terbaik untuk hari dan tanggal pelaksanaannya, terutama setelah selesai panen. Upacara seba merupakan rangkaian dari religi atau sistem kepercayaan agama Sunda Wiwitan yang dianut oleh masyarakat Kanekes, maka upacara ini wajib dilakukan karena merupakan pusaka leluhur harus terus dijaga dan dilestarikan yang diwariskan secara berkesinambungan kepada anak cucunya secara tegas dan mengikat.

Abstract
This research aims to find out meanings and symbols in seba, the culmination of (Baduy) Kanekes‟ religious ritual. By conducting descriptive research method the author applied functional approach. Data were collected through interviews and observation. The result shows that the seba ceremony is the culmination of series of religious ritual conducting every year. The ceremony is performed to express gratitude to God and the government for the prosperity they have gained during the year. On the other hand, seba is the evidence of customary recognition as well as a means of maintaining good relationship between Kanekes people and the government, either with bupati (the Regent)or the governor as their informal leaders. The Baduys determine good date and time which they think the best for performing the ceremony, especially after harvest time. Seba is a part of series in religious ritual of ancient Sundanese belief system (Sunda Wiwitan) which is embraced by the Baduys. The ceremony is an obligatory because it is the legacy of their ancestors which have to be preserved and to be passed on continuously to their descendants.


Keywords


Baduy, Kanekes, upacara seba, the Baduys, Kanekes, seba ceremony.

References


DAFTAR SUMBER

Buku

Danasasmita, Saleh dan Anis Djatisunda., 1986. Kehidupan Masyarakat Kanekes, Bandung: Bagiab Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi). Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Garna, Yudistira,K. 1993.

“Masyarakat Baduy di Banten, dalam Masyarakat Terasing di Indonesia”, Editor: Koentjaraningrat & Simorangkir, Seri Etnografi Indonesia No.4. Jakarta: Departemen Sosial dan Dewan Nasional Indonesia untukKesejahteraan Sosial dengan Gramedia Pustaka Utama. ----------. 1996. Ilmu-Ilmu Sosial: Dasar-Konsep-Posisi. Bandung: PPs Universitas Padjadjaran. Geertz, Clifford. 1981. Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya. ----------. 1992. The Interpretation of Cultures: Selected Essays. Dialih bahasakan oleh Francisco Budi Hardiman dengan judul Tafsir Kebudayan. Yogyakarta: Kanisius. Harsojo, 1982. Pengantar Antropologi. Cet. IV. Jakarta: Binacipta. Koentjaraningrat, 1980. Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Jakarta: Dian Rakyat. ---------------, 1982. Kebudayaan Mentalitet Dan Pembangunan. Cet. IX Jakarta: Gramedia. ---------------, 1993. Masyarakat Terasing di Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia. Soeriadiradja, R. Djatnika., 1951. Baduy: Buku Bacaan Bahasa Sunda. Kementerian Pendidikan Pengajaran Dan Kebudayaan. Jakarta. Warnaen, Suwarsih. (et. all). 1987.

Pandangan Hidup Orang Sunda Seperti Tercermin Dalam Tradisi Lisan Dan Sastra Sunda. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi). Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.

Makalah, Brosur, Surat Kabar, dll. :

Edwin, Norman,. 1980. Arca Domas dan Badui di Kanekes. Dalam Intisari no. 202, Mei. Jakarta: Gramedia. Hal. 120 – 128. Subagiyo Kodrat, 1975. Sekelumit Tentang Masyarakat Kanekes (masyarakat Baduy) Di Kabupaten Lebak. Rangkasbitung: tp. Thn. Doc. Video Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten




DOI: http://dx.doi.org/10.30959/patanjala.v5i1.163

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


Patanjala Indexed by :

patanjala google schoolar 

ISSN: 2085-9937 (print)
ISSN: 2598-1242 (online)

@2017

Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

 Image and video hosting by TinyPicCreative Commons License