DITIOENG MEMEH HOEDJAN: PEMIKIRAN PANGERAN ARIA SURIA ATMADJA DALAM MEMAJUKAN PEMUDA PRIBUMI DI SUMEDANG (1800-1921)

Lasmiyati Lasmiyati

Abstract


Abstrak

Pangeran  Aria Suria Atmadja telah memajukan Sumedang di berbagai sektor seperti pertanian, perikanan, kehutanan, politik, kebudayaan, dan sektor lainnya. Atas jasa-jasanya dalam memajukan Sumedang, pada  25 April 1922 didirikan  monumen berbentuk Lingga yang  diresmikan oleh Gubernur Jenderal D. Fock.  Pada masa  pemerintah kolonial Belanda di bawah Gubernur Jenderal Paul van Limburg Stirum menguasai wilayah Sumedang, Pangeran Aria Suria Atmadja mengusulkan agar para pemuda pribumi dilatih menggunakan senjata. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sosok  Pangeran Aria Suria Atmadja, bagaimana dan dalam bidang  apa beliau berkiprah untuk memajukan Sumedang dan bagaimana  reaksi pemerintah kolonial terhadap  kiprahnya. Tulisan berjudul Ditioeng Memeh Hudjan merupakan karya luhung Pangeran Aria Suria Atmadja yang berisikan keinginan, cita-cita, dan harapan untuk memajukan pemuda pribumi di Sumedang. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Dari hasil penelitian   yang dilakukan diperoleh informasi bahwa  usulan Pangeran Aria Suria Atmadja agar pemerintah kolonial  melatih para pemuda  untuk menggunakan senjata ditolak. Pemerintah kolonial bereaksi dengan membuat tiga benteng pertahanan di Sumedang. 

 

Abstract

The prince Aria Suria Atmadja drummed up Sumedang in various sectors as well as agriculture, fishery, forestry, politics, culture, and other sectors.  Because of his merit, on April 25th the Governor General D. Fock build a monumen, and the monumen shaped is Lingga ().   In the era of Dutch colonialism, General Paul van Limburg Stirum hold the governor of Sumedang.In that time, Prince Aria Suria Atmadja was raising a new issue that the young people have to train in using a weapon (gun).  What to do with this research is to know the figure of Prince Aria Suria Atmadja, especially to know the ways of Prince Aria in developing Sumedangand to find out the reaction of dutch collonial which is caused by the movement of the prince.  The writtten entitled Ditioeng Memeh Hudjanis one of the greatest masterpiece of Prince Aria Suria Atmadja, which is containing his will, hope and expectation in drumming up young people in Sumedang.  The method that writer used are related with Heuristic, criticism, interpretation, and historygraphy.  The result of the research show us that the suggestions of Prince Aria Suria Atmadja related to the use weapon (gun) was rejected by the dutch collonial.  The dutch collonial also build three defence fortress in Sumedang as the response to the movement.


Keywords


Sumedang, Pangeran Aria Suria Atmadja, pelatihan militer, Sumedang, Pangeran Aria Suria Atmadja, military training.

Full Text:

PDF

References


Buku

Hardjasaputera, Sobana. 2004. “Bupati di Priangan dan Peranannya pada Abad ke-17– abad ke-19” dalam Bupati Priangan dan Kajian Lainnya mengenai Budaya Sunda. Bandung: Pusat Studi Sunda.

______. 2005. Sejarah Sumedang untuk Sekolah Lanjutan. Bandung: Kerjasama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sumedang dengan Yayasan Pusat Studi Sunda dan Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.

Jubaedah, Edah. 2005. Titilar Karuhun, Perubahan Budaya di Sumedang Abad XVI-XVII. Bandung: Paragraf.

Kunto, Haryoto. 1986. Semerbak Bunga di Bandung Raya. Bandung: Granesia.

Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah, edisi kedua. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Lubis, Nina Herlina. 2000. “Sumedang”, dalam Sejarah Kota-Kota Lama di Jawa Barat. Bandung: Alqaprint.

______. 2008. Sejarah Sumedang dari Masa ke Masa. Sumedang: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumedang.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasinal. 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi keempat. Jakarta: Gramedia.

Soeria Atmadja, Aria. 1920. Ditioeng Memeh Hoedjan. Tidak diterbitkan.

Suryadi, Didi. 1972. Sedjarah Sumedang. Bandung: Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.

Subarkah, Imam. 1994. Sekilas 125 Tahun Kereta Api Kita (1967-1992). Tidak diterbitkan.

Suryaman, Nanang, Yeni Mulyani Sunarya, Abdul Syukur. 996. Mengenal Museum Prabu Geusan Ulun serta Riwayat Leluhur Sumedang. Tidak diterbitkan

Tamburaka, Rustam E. 1999. Pengantar Ilmu Sejarah Teori Filsafat Sejarah, Sejarah Filsafat dan Iptek. Jakarta: Rineka Cipta.

Wiriaatmadja, R. Moch Ahmad. 2002. Peninggalan Instalasi Militer Hindia Belanda Era Perang Dunia I 1914-1918 di Kota Sumedang. Tidak diterbitkan.

Yayasan Untuk Indonesia. 2005. Ensiklopedi Jakarta, Culture & Heritage, buku I. Jakarta: Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Surat kabar

Solihat, Kodar. 2005. “Kereta Api Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari Menyimpan Banyak Kenangan”. Pikiran Rakyat, 5 Juli 2005, hlm. 21.

Internet

“Pangeran Suria Atmadja atau Pangeran Mekkah, Bupati Sumedang ke-20”, diakses dari www.babadsunda. blogspot.com, tanggal 8 Januari 2013, jam.15.04.

Hermawan, Iwan “Bandung sebagai Ibukota Hindia Belanda”, diakses dari http://geohistori.blogspot.com, tanggal 3 Januari 2014, jam. 13.45.

Muhsin. Z, Mumuh, “Pangeran Aria Suria Atmadja (11 Januari 1851-1 Juni 1921)”, Makalah yang disampaikan dalam “Seminar Nasional Pengusulan Pangeran Suria Atmadja sebagai pahlawan nasional, diakses dari pustaka.unpad.ac.id, tanggal 9 Januari 2014, jam. 06.14.




DOI: http://dx.doi.org/10.30959/ptj.v6i2.196

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


Patanjala Indexed by :

patanjala google schoolar 

ISSN: 2085-9937 (print)
ISSN: 2598-1242 (online)

@2017

Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

 Image and video hosting by TinyPicCreative Commons License