PERGESERAN MAKNA FILOSOFIS ALUN-ALUN KOTA BANDUNG PADA ABAD XIX – ABAD XXI

Miftahul Falah, Agusmanon Yuniadi, Rina Adyawardhina

Abstract


Sebagai kota yang dibangun dengan mempertimbangkan aspek kosmologis, alun-alun merupakan salah satu elemen pembentuk Kota Bandung sejak menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Bandung pada 25 September 1810. Alun-alun Kota Bandung mengalami perubahan fungsi, dari titik batas ruang profan dan ruang sakral menjadi ruang terbuka publik sehingga makna filosofisnya mengalami pergeseran. Untuk memahami perubahan tersebut secara kronologis, dilakukan penelitian historis dengan menerapkan metode sejarah yang terdiri dari empat tahap, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam perkembangannya, warga Kota Bandung tidak lagi memandang alun-alun sebagai salah satu elemen penyeimbang antara makrokosmos dan mikrokosmos, melainkan sebagai ruang terbuka publik tempat bersosialisasi seluruh warga kota. Fungsi Alun-alun Kota Bandung menunjukkan perubahan, dari sebuah lapangan terbuka dengan fungsi administratif kota tradisional hingga menjadi sebuah taman kota yang menjadi destinasi wisata di pusat kota sehingga memperlihatkan fungsi sosial-ekonomi.



As a city that was built which takes the cosmological aspect into consideration, the square is one of the elements that formed the city of Bandung since becoming the capital of Bandung Regency on September 25, 1810. Its changing functions, which were traditionally perceived as a boundary of profane and sacred space into modern public open space, reflected a shifting in philosophical meaning. To understand the changes chronologically, this paper uses historical method which consists of four stages, namely, heuristics, critique, interpretation, and historiography. The results show that gradually the citizens of Bandung no longer look at the city square as one of the elements of the balance between the macrocosm and microcosm, but rather as a place for community gatherings. Its function changes from an open field with the administrative role of the traditional city into a city park that became a tourist destination in the city centre with socio-economic functions.


Keywords


Alun-alun, Kota Bandung, kosmologi, taman kota, ruang terbuka publik.

Full Text:

PDF

References


DAFTAR PUSTAKA

Arsip, Fotografi, Kartografi, dan Sumber Resmi Tercetak

Het Aloen-Aloen Bandoeng, 1920. Collectie Koninklijk Instituut Tal-, Land-, en Volkenkunde (KITLV). Inv. Nr. 11814. Leiden: Universiteitsbiblio-theek Leiden.

IJsdepot op de aloen-aloen te Bandoeng, 1915. Collectie Koninklijk Insti-tuut Tal-, Land-, en Volkenkunde (KITLV). Inv. Nr. 1400616. Lei-den: Universiteitsbibliotheek Lei-den.

Direktorat Jenderal Penataan Ruang Depar-temen Pekerjaan Umum. 2006. Ruang Terbuka Hijau Sebagai Unsur Utama Tata Ruang Kota. Direktorat Jenderal Penataan Ruang.

Negeroij van Bandong. Koleksi Kartografi de Haan. Jakarta: Arsip Nasional RI.

Jurnal, Makalah, Laporan Peneliti-an, Skripsi, dan Tesis

“25 jaren Stedenwedstrijden” in Mooi Bandoeng. Jaargang 7. No. 4. April 1939. p. 4-5.

Carr, S.; M. Francis; L. G. Rivlin; and A. M. Stone. 1992. Public Space. Cambri-dge: Cambridge University Press.

Falah, Miftahul. 2018. Pertumbuhan Morfo-logi Kota-Kota Pusat Pemerintahan di Priangan pada Abad XX – Awal Abad XXI. Disertasi. Jatinangor: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran.

Garraghan, J. Gilbert. 1957. A Guide to Historical Method. New York: Fordham University.

Gill, Ronald Gilbert. 1995. De Indische Stad op Java en Madoera; Een Morfo-logische Studie van haar Ontwik-keling. Disertasi. Delft: Technische Universiteit Delft.

Stanley, Benjamin W. et al. “Urban Open Spaces in Historical Perspective: A Transdisciplinary Typology and Analysis” in Urban Geography. Edisi 8. No. 8. 2012. Bellwether Pub-lishing, Ltd.

de Wilde, Andries. 1830. De Preanger Regentschappen op Java Gelegen. Amsterdam: Westerman.

Wibowo, H.; R. S. Rukayah; & A. Suprapti. 2015. “Persepsi Masya-rakat Ter-hadap Alun-alun Kota Bandung se-bagai ruang terbuka publik”. Teknik. 36 (1), 10-16.

Widyaevan, D. A. 2015. “The Change of Public Perception towards Alun-alun Bandung as a City Center”. Procedia-Social and Beha-vioral Sciences, 184, 135-143.

Buku

Gottschalk, Louis. 1969.

Understanding History; A Primer of Historical Method. 2nd Edition. New York: Alfred A, Knoff.

Hakim, R., Utomo, H. 2003.

Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap, Prinsip- Unsur dan Aplikasi Desain. Jakarta: Bumi Aksara.

Handinoto. 2015.

Perkembangan Kota di Jawa Abad XVII sampai Perte-ngahan Abad XX; Dipandang dari Sudut Bentuk dan Struktur Kotanya. Yogyakarta: Ombak.

Herlina, Nina. 2008.

Metode Sejarah. Ban-dung: Satya Historika.

Jayanto, G. D.; N. Y. Jurnawan; A. Nurkho-lis; I. Elvira; R. Winastuti. 2018. Menyongsong Alun-Alun Sebagai Pusat Kota Berbasis Sustainable Development. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Kartodiwirio, Sudarsono Katam. 2006, Bandung; Kilas Peristiwa di Mata Filatelis, Sebuah Wisata Sejarah. Bandung: Kiblat.

Kuntowijoyo. 1995.

Pengantar Ilmu Seja-rah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Mirza, S. 2010.

“Strategic urban planning and design tools for inner city regeneration” in 46th The Inter-national Society of City and Regio-nal Planners Conference Procee-dings (pp. 1-13).

Paulus, J. 1917.

Encyclopedie van Neder-landsch-Indië. Tweede Druk. Met Medeweeking van Verschillende Geleerden Ambtenaren en Officieren. 1ste Deel. S’Graven-hage: Martinus Nijhoff.

“De Noorder Aloen-Aloen te Yogya-karta” dalam Majalah Djawa. No. 32. Mei 1940. Hlm. 176-184.

Putra, A. D., Azwir, M., Octaviany, V., & Nilamsuci, R. 2015.

“Kajian Trans-formasi Bentuk dan Fungsi Alun-alun Bandung Sebagai Ruang Terbuka Publik”. Reka Karsa, 3 (3).

Ramadhan, G.; G. Nurzuraida; H. Wibo-wo; K. Wijaya. 2018.

“Elemen Pemben-tuk Ruang Terbuka Publik Alun-Alun Kota Bandung”. Ensains Journal, 1 (1), 56-62.

Renier, G. J. 1997.

Metode dan Manfaat Ilmu Sejarah. Terj. Muin Umar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Roosmalen, Paulina Katharina Maria. 2008. Ontwerpen aan de stad;Stedenbouw in Nederlands-Indië en Indonesië (1905-1950). Delf: Delf Instituut.

Situs Internet

Alun-Alun Bandung-ku Kini. Diakses dari https://www.kaskus.co.id/ thread/54a1277798-e31bdd608b4571/alun-alun-bandung-ku-kini/. Tanggal 4 Maret 2019. Pukul 10.00 WIB.

Kota Bandung. Diakses dari https://www. google.com/maps/place/ Bandung,+ Kota+Bandung. Tang-gal 4 Maret 2019. Pukul 08.16 WIB.

Wisata Keluarga di Taman Alun-Alun Bandung. Diakses dari http:// www.wisatabdg.com/2015/01/wisata-keluarga-di-taman-alun-alun. html. Tanggal 21 September 2015. Pukul 1.57 WIB.

Mengok Wajah Baru Taman Alun-Alun Kota Bandung. Diakses dari https://www. medcom.id/foto/news/4KZ4WDrb-menengok-wajah-baru-taman-alun-alun-bandung. Tanggal 4 Maret 2019. Pukul 22.36 WIB.

Kota Bandung. Diakses dari https:// www.google.com/maps/place/-Ban dung+Kota+Bandung,+Jawa+Barat. Tanggal 4 Maret 2019.




DOI: http://dx.doi.org/10.30959/patanjala.v11i2.507

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


Patanjala Indexed by :

patanjala google schoolar 

ISSN: 2085-9937 (print)
ISSN: 2598-1242 (online)

@2017

Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

 Image and video hosting by TinyPicCreative Commons License